Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

lp2m@iainmadura.ac.id

Diskusi Terpumpun Rumuskan Rekomendasi dan Rencana Aksi Pelestarian Ekosistem Syi’ir Madura

  • Diposting Oleh Admin Web LP2M
  • Minggu, 30 November 2025
  • Dilihat 12 Kali
Bagikan ke

Pamekasan, upaya memperkuat pelestarian warisan budaya tak benda kembali digelorakan melalui kegiatan Diskusi Terpumpun yang dilaksanakan pada Minggu, 30 November 2025, di Hotel Odaita Pamekasan. Kegiatan ini secara khusus membahas perumusan rekomendasi dan rencana aksi kajian ekosistem syi’ir Madura, sebuah tradisi lisan yang masih menjadi denyut kultural masyarakat Madura, terutama di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan.

Diskusi ini menghadirkan dua lembaga yang selama ini fokus dalam penelitian kebudayaan Madura, yakni Tim Peneliti Yayasan Pakem Maddhu dan LPPM UIN Madura. Kehadiran keduanya memberi bobot akademik sekaligus praktik kebudayaan yang kuat dalam menyusun langkah pelestarian syi’ir Madura ke depan.

Acara dibuka secara resmi oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Mojokerto, yang dalam hal ini diwakili oleh Pak Nur. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa diskusi ini merupakan momentum strategis untuk memastikan penelitian ekosistem syi’ir Madura tidak berhenti pada tataran data dan deskripsi semata, tetapi benar-benar menghasilkan rekomendasi dan rencana aksi yang dapat diimplementasikan oleh berbagai pemangku kepentingan.

“Diskusi terpumpun ini kita selenggarakan guna merumuskan rekomendasi dan rencana aksi yang konkret, berbasis hasil penelitian yang telah dilakukan tentang ekosistem syi’ir Madura di Kabupaten Sumenep dan Pamekasan. Tradisi ini tidak hanya penting sebagai identitas budaya, tetapi juga bagian dari ekosistem pengetahuan masyarakat Madura yang perlu dijaga keberlanjutannya,” ujar Pak Nur dalam sambutan pembukanya.

Setelah pembukaan, suasana diskusi semakin hidup dengan suguhan penampilan syi’ir Madura yang dilantunkan oleh para santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Lantunan syi’ir dengan intonasi khas Madura ini membawa para peserta kembali pada suasana spiritual dan tradisional yang selama ini menjadi ciri kuat syi’ir Madura. Kehadiran penampilan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi lisan ini masih tumbuh dan hidup di kalangan pesantren, meski menghadapi tantangan perkembangan zaman.

Memasuki sesi presentasi, Hafid sapaan akrabnya mewakili tim kolaborasi Yayasan Pakem Maddhu dan LPPM UIN Madura, memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan bersama TIM LPPM UIN Madura yang terdiri atas Mashur Abadi, Ainur Rahman Hidayat, Moh. Arifin Alatas, dan Kamaruddin. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa syi’ir Madura merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang sangat penting, karena mengandung nilai religius, sosial, dan estetis yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Madura.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa syi’ir Madura tidak hanya dipandang sebatas karya sastra lisan. Melainkan sumber pendidikan moral, medium penyampaian nilai-nilai agama, sekaligus sarana memperkuat kohesi sosial. Oleh karena itu, pelestariannya memerlukan pendekatan ekosistem yang melibatkan pemerintah, pesantren, komunitas, dan para maestro syi’ir Madura,” jelas Dr. Hafid.

Ia menambahkan bahwa meskipun syi’ir Madura masih eksis, terutama di lingkungan pesantren di Sumenep dan Pamekasan, jumlah peminat muda cenderung menurun. Kesenjangan regenerasi ini menjadi perhatian serius dalam penelitian, karena keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.

Menurut temuan penelitian, masih terdapat sejumlah pesantren, komunitas budaya, dan individu maestro yang aktif melestarikan syi’ir Madura. Meski demikian, belum adanya program sistematis dan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu faktor mengapa syi’ir belum memiliki pondasi pelindungan yang kuat.

Pada sesi diskusi, peserta mengemukakan berbagai gagasan, antara lain urgensi digitalisasi naskah syi’ir Madura, pentingnya penyusunan kurikulum muatan lokal berbasis tradisi lisan, hingga kebutuhan memperkuat pelatihan bagi para guru ngaji dan ustadz yang selama ini menjadi penyampai syi’ir. Kolaborasi lintas lembaga dianggap menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian, mengingat syi’ir Madura melibatkan dimensi religius, kesenian, pendidikan, dan sosial sekaligus.

Rencana aksi yang disepakati dalam diskusi ini meliputi tiga aspek utama. Pertama, penguatan basis data dan dokumentasi syi’ir Madura melalui penelitian lanjutan yang melibatkan peneliti lokal dan nasional. Kedua, integrasi syi’ir Madura dalam program pendidikan formal dan nonformal, termasuk di pesantren sebagai pusat transmisi budaya. Ketiga, pemberdayaan komunitas dan maestro syi’ir Madura melalui program pelatihan, festival budaya, dan dukungan fasilitasi dari pemerintah daerah maupun pusat.

Para peserta juga menyoroti perlunya dukungan regulasi dan pendampingan dari Balai Pelestarian Kebudayaan sebagai institusi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pelindungan warisan budaya takbenda. Dengan adanya hasil penelitian yang komprehensif dan rencana aksi yang berbasis bukti, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi langkah awal yang lebih terarah dalam menjaga keberlanjutan syi’ir Madura.

Menutup kegiatan, moderator menyampaikan bahwa semua rekomendasi dan catatan hasil diskusi akan dituangkan dalam laporan resmi untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, pesantren, serta pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, syi’ir Madura dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian penting dari identitas dan kebudayaan Madura.